Breaking News
Loading...
Senin, 09 Februari 2015

Mengapa Sulit Khusyu dalam Shalat? Ini Penjelasan Ustaz Arifin Ilham

Pimpinan Majelis Az Zikra, KH. Muhammad Arifin Ilham

Mengapa Sulit Khusyu dalam Shalat?

Yang pertama, memang belum mengenal kecuali sebatas Tuhan. Belum mengenal sifat, af'al dan asmaNya. Dia yang menciptakan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, aku, tubuhku, mataku, telingaku, jantungku, istriku, anak-anakku, semua yang kulihat, semua yang kudengar, semua yang bergerak, semua yang berada dilangit dan dibumi, semua dihidupkanNya " Al Muhyi" dan semua akan dimatikanNya "Al Mumiitu". Semua tunduk dalam kehendak "Al Muriidu" dan kekuasaanNya "Al Qodiiru", Dialah yang mengatur semuanya "Ar Robbu", Dialah yang mengusai sekaligus memiliki semuanya "Al Maaliku" (QS Ali Imran 26-27). Dia Maha Menatap "Al Bashiiru" tahu persis hati, pikiran dan lintasan pikiran kita dan Dia Maha Mendengar "As Samiiu". Mendengar gesekan daun, langkah semut dan rintihan hati hambaNya.

Lantas sadarkah kita bahwa Dia yang segala galanya yang kita hadapi dalam sholat selama ini?, Bisakah hati dan pikiran kita lari saat sholat sementara Dia menatap hati pikiran kita? Kalau begitu kok bisa maksiat sementara Dia terus menerus memperhatikan kita?

Yang kedua, karena belum faham bacaan, makna, hikmah, keutamaan, syarat dan rukun sholat. Maka jadilah "sukaaro" shalat mabuk alias sholat tanpa rasa, tanpa pemahaman, tanpa penghayatan, tanpa keyakinan, kosong, hampa, seakan robot jasad tanpa ruh. "Alkusaala" malah terasa beban, buru-buru pengen cepat selesai, senangnya menunda-nunda waktunya, gerak sholatnya cepat seperti ayam matok. Surah dan bacaan shalatpun komai kamit. Sahabatku, simaklah kalam Allah ini, "...Janganlah kalian menegakkan shalat, sedangkan kalian dalam keadaan mabuk, sampai kalian benar-benar paham apa-apa yang kalian baca dalam shalat kalian" (QS An Nisa 43).

Lihat orang mabuk berkata berbuat tetapi tidak sadar apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat, lihat orang shalat berdiri, bertakbir, baca ayat, rukuk, sujud, tahiyyat dan salam, tetapi tidak sadar bahwa ia sedang berdiri, rukuk, sujud menghadap pencipta langit dan bumi, tidak sadar bahwa ia sedang berdialog dengan pencipta dirinya, yang maha menentukan segala-galanya.

Yang ketiga
, karena tidak sadar bahwa shalat itu adalah "Almuhadatsah bainal makhluqi wa Khooliqi" dialog hamba kepada khaliqnya, "Apabila salah seorang dari kalian shalat, sebenarnya ia sedang berkomukasi dengan Allah" (HR Bukhori Muslim).

Coba perhatikan dari adzan, panggilan waktu menghadapNya, yang dipanggilpun yang bersyahadat, "Asyhaaduallaa ilaaha illallah wa ashhadu anna Muhammadar Rasulullah", yang tidak beriman tidak dipanggil, karena itulah Rasulullah mengingatkan, "Yang membedakan kita dengan orang kafir adalah shalat, maka siapa dengan sengaja meninggalkan shalat maka sungguh ia sudah berperangai seperti orang kafir".

Menutup aurat menghadapNya, menghadap kiblat karena memang fokus jasad ruh, hati pikiran kepadaNya, apalagi berjamaah jadi rapi shaf dan seluruh duniapun satu arah kiblat, lalu bersuci karena memang menghadap Maha Suci, lalu berdiri tegap, takbir, membaca ifitah "inn wajjahtu wajhiyalilldzi fathoros samaawati wal ardho" hamba datang menghadapMu duhai pencipta langit dan bumi, tunduk patuh taat padaMu. Inilah diantara komunikasi shalat yang belum dipahami. Lantas bagaimana khusyu' tanpa kesadaran ini, sahabatku...?

Yang keempat, karena sedikit kita yang paham bahwa dalam shalat tatkala membaca Al fatihah terjadi dialog hamba dengan Rabbnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Barang siapa membaca surat al-Fatihah, setiap ayat yang dibaca itu langsung dijawab oleh Allah", lalu Rasulullah menyampaikan ketika seorang hamba berkata, ''Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam". Allah menjawab, "Hamba-Ku telah memuji-Ku". Seorang hamba berkata, ''Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang". Allah menjawab, "Hamba-Ku memuji-Ku". Seorang hamba berkata, ''Raja di hari pengadilan". Allah menjawab, "Hamba-Ku mengagungkan Diri-Ku. Hamba-Ku berserah diri kepada-Ku". Seorang hamba berkata, ''Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan". Allah menjawab, "Inilah pertengahan antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta Aku berikan". Seorang hamba berkata, ''Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang telah Engkau anugerahkan kepada mereka, bukan mereka yang kena murka dan bukan mereka yang sesat.'' Allah menjawab, "Ini milik hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta Aku berikan". (Hadist Qudsi, HR Muslim).

Karena itu sahabatku, mulailah bacanya pelan-pelan dengan kesadaran dan keyakinan "thuma'ninah", sungguh Allah menjawab setiap ayat yang kita baca..."

Yang kelima, karena "hubbub dunya" sangat mencintai dunia, "the money is the first and the final of life, no money no happy" sehingga hati pikirannya selalu dipenuhi oleh segala sesuatu yang bersifat duniawi, duit, dolar, makan minum, keluarga, target-target bisnis, masalah-masalah, berkhayal dan sebagainya. Dan itulah yang di ingat-ingat dalam shalat, sampai apa yang disebut oleh Rasulullah, "hatta yansa kam rok atan laka" sampai ia lupa sudah berapa rakaat ia sudah shalat", maka tidak heran saat sholat yang semestinya hati pikirannya fokus dalam sholat malah ingat dunia.

Sahabatku, simaklah Kalam Allah surah Al Maa'uun ayat 4 dan 5, "Celakalah orang-orang yang mengerjakan shalat yang hati pikirannya lalai kepada Allah". Lalai hatinya karena dunia "ball tu'tsiruunal hayaatad dunya" (QS Al A’laa 16). Karena itu sadarilah hidup kita tidak lama di dunia yang fana ini, shalatlah seakan shalat terakhir hidup, simaklah sabda Rasulullah, "Bila engkau melakukan shalat maka shalatlah kamu, seperti orang yang akan meninggalkan alam fana" (HR Ibnu Majah & Imam Ahmad).

Yang keenam, karena makan minum yang haram, baik secara zat "lizaatihi" seperti anjing, babi, alkohol, narkoba dan sebagainya. Atau cara mencarinya dengan cara haram, "linailihi", walaupun halal zatnya seperti makan tempe tahu halal tetapi karena cara mencarinya dengan berdusta, menipu, sumpah palsu, terima sogokan, korupsi dan sebagainya, maka tetap haram, seakan ia makan tempe tahu tetapi sebenarnya ia makan anjing dan babi, itulah yang disebut "rijsun min amalisy syaithon". Najis karena amalnya  atau "roddudzdzakaat" karena menolak zakat, maka hartanya bercampur dengan hak faqir miskin, kotorlah hartanya. Semuanya menjadi hijab hati dan hijab hubungan kepada Allah, walhasil shalatnyapun tidak diterima, Allah "subbuuhun" Maha Suci hanya menerima yang suci. Ingat komentar Rasul pada orang yang menangis tatkala berdoa, "hampir saja aku mengira doanya diijabah Allah, namun Jibril memberitahuku bahwa orang itu suka menipu, lantas bagaimana Allah menjawab si penipu, pakaian dan makanannya dari hasil menzalimi orang lain?" Sadarilah saat shalat kita berhadapan zat Yang Maha Suci!.

Yang ketujuh
, karena shalatnya masih disertai "Al fahsyau" berbuat maksiat seperti berdusta, mabuk, buka aurat, berjudi, berzina, dari zina mata melihat yang porno, tangan meraba, pikiran berkhayal sampai zina kemaluan, "adzdzunuubu kaafilatul quluubi" dosa-dosa maksiat itu menjadi "cover" penutup hati.

Alwaqi, guru Imam Syafii' berkata, "nurullahi la yuhda lil a'shi", sungguh cahaya nur hidayah Allah tidak akan masuk pada hati yang tertutup gelap karena maksiat. Inilah kebanyakan yang terjadi pada "tukang shalat" bukan "penegak shalat", STMJ sholat rajin maksiat tekun, ritual rutinitas tanpa disertai amal yang berkualitas, hasilnya lagi lagi kosong, tidak ada "atsar" pengaruh, ini sekaligus menjadi jawaban mengapa ada orang shalat tetapi sulit khusyu'. Ya bagaimana khusyu' maksiat terus sich!.  Imam Ghazali berkata, "Sungguh, sekali dusta sudah cukup membuat sholatnya terhijab kepada Rabbnya".

Yang kedelapan, karena shalatnya disertai "al munkar", berbuat zalim, menganiaya, menipu, menggunjing, memfitnah, merendahkan orang lain secara terang-terangan atau secara diam diam, dalam hatinya merendahkan orang lain, menghina, memukul apalagi sampai membunuh orang lain. Ini pun menjadi hijab besar, karena Allah hanya menerima ibadah yang membuat hamba itu menghinakan diri dihadapanNya dan yang membuat dirinya rendah hati kepada mahlukNya.

Cukup shalat itu akan dianggap dusta kalau tidak memperhatikan yatim piatu dan fakir miskin (QS Al Maun 1-3). "Cuek, masa bodoh, pelit, emangnya gue pikiran" dan sebagainya sudah cukup dianggap pendusta shalat, pendusta agama apalagi sampai berbuat aniaya. Dan ini semua bukan akhlak hamba Allah yang sholat, orang shalat itu belas kasih, santun, pemaaf, murah senyum, dermawan dan rendah hati, sahabatku.

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah menerima sholat hamba hambaNya yang rendah hati". Sekali lagi sahabatku, hambaNya yang mengenal Allah akan menghinakan diri dihadapan Allah dan buahnya rendah hati dihadapan mahlukNya.

SubhanAllah, maafkan kalau aku sampaikan membuat kalian tidak nyaman, mudah-mudahan Allah terus membimbing kita dengan hidayahNya sehingga semakin dekat dengan kematiaan semakin baik ibadah shalat kita... Aamiin
 

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Toggle Footer