Breaking News
Loading...
Kamis, 12 Februari 2015

Cara dan Bacaan Sholat Sesuai Tuntunan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam

ilustrasi
Bismillah

Rasulullah SAW bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al-Bukhari dari Malik bin al-Huwairits)

Beberapa perbedaan pendapat dari para ulama dalam bacaan dan gerakan sholat hendaknya dijadikan dorongan semangat bagi kita untuk mempelajari ilmu (agama) secara lebih jauh lagi melalui sumber-sumber yang sunnah dan dari ulama-ulama yang telah diakui kemurnian aqidahnya dan keilmuannya.

Berikut ini adalah panduan sholat sesuai sunnah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalaam, Semoga Allah mengampuni saya dan kita semua bila terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam mengutip atau mencatat panduan sholat ini.  Wallahu ‘alam bishshawab.

MENGHADAP KA’BAH

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila berdiri untuk sholat fardhu atau sholat sunnah, beliau menghadap Ka’bah. Beliau memerintahkan berbuat demikian sebagaimana sabdanya kepada orang yang sholatnya salah:

“Bila engkau berdiri untuk sholat, sempurnakanlah wudhu’mu, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.”   (HR. Bukhari, Muslim dan Siraj).

Tentang hal ini telah turun pula firman Allah dalam Surah Al Baqarah : 115:  “Kemana saja kamu menghadapkan muka, disana ada wajah Allah.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah sholat menghadap Baitul Maqdis, hal ini terjadi sebelum turunnya firman Allah:   “Kami telah melihat kamu menengadahkan kepalamu ke langit. Kami palingkan kamu ke kiblat yang kamu inginkan. Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu ke sebagian arah Masjidil Haram.” (QS. Al Baqarah : 144).

Setelah ayat ini turun beliau sholat menghadap Ka’bah.

Pada waktu sholat subuh kaum muslim yang tinggal di Quba’ kedatangan seorang utusan Rasulullah untuk menyampaikan berita, ujarnya,“Sesungguhnya semalam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendapat wahyu, beliau disuruh menghadap Ka’bah. Oleh karena itu, (hendaklah) kalian menghadap ke sana.” Pada saat itu mereka tengah menghadap ke Syam (Baitul Maqdis). Mereka lalu berputar (imam mereka memutar haluan sehingga ia mengimami mereka menghadap kiblat). (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Siraj, Thabrani, dan Ibnu Sa’ad. Baca Kitab Al Irwa’, hadits No. 290).

NIAT

Niat berarti men-sengaja untuk sholat, menghambakan diri kepada Allah Ta’ala semata, serta menguatkannya dalam hati.
Tujuan kita shalat & kepada siapa kita shalat. Niat adalah pekerjaan hati.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua amal tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapat (balasan) sesuai dengan niatnya.”  (HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain. Baca Al Irwa’, hadits no. 22).

Dan tidaklah disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula dari salah seorang sahabatnya bahwa niat itu dilafadzkan.  Abu Dawud bertanya kepada Imam Ahmad. Dia berkata, “Apakah orang sholat mengatakan sesuatu sebelum dia takbir?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak.” (Masaail al Imam Ahmad hal 31 dan Majmuu’ al Fataawaa XXII/28).

TAKBIRATUL IHROM

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memulai sholatnya (dilakukan hanya sekali ketika hendak memulai suatu sholat) dengan takbiratul ihrom yakni mengucapkan Allahu Akbar di awal sholat dan beliau pun pernah memerintahkan seperti itu kepada orang yang sholatnya salah. Beliau bersabda kepada orang itu:

“Sesungguhnya sholat seseorang tidak sempurna sebelum dia berwudhu’ dan melakukan wudhu’ sesuai ketentuannya, kemudian ia mengucapkan Allahu Akbar.”   (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Thabrani dengan sanad shahih).

Takbirotul ihrom tersebut harus diucapkan dengan lisan (bukan diucapkan di dalam hati).

An Nawawi berkata, “…adapun selain imam, maka disunnahkan baginya untuk tidak mengeraskan suara ketika membaca lafadz takbir, baik apakah dia sedang menjadi makmum atau ketika sholat sendiri. Tidak mengeraskan suara ini jika dia tidak menjumpai rintangan, seperti suara yang sangat gaduh. Batas minimal suara yang pelan adalah bisa didengar oleh dirinya sendiri jika pendengarannya normal. Ini berlaku secara umum baik ketika membaca ayat-ayat al Qur-an, takbir, membaca tasbih ketika ruku’, tasyahud, salam dan doa-doa dalam sholat baik yang hukumnya wajib maupun sunnah…” beliau melanjutkan, “Demikianlah nash yang dikemukakan Syafi’i dan disepakati oleh para pengikutnya. Asy Syafi’i berkata dalam al Umm, ‘Hendaklah suaranya bisa didengar sendiri dan orang yang berada disampingnya. Tidak patut dia menambah volume suara lebih dari ukuran itu.’.” (al Majmuu’ III/295).

BACAAN DOA ISTIFTAH/”IFTITAH”

Tidak sempurna sholat seseorang sebelum ia bertakbir, mengucapkan pujian, mengucapkan kalimat keagungan (doa istiftah), dan membaca ayat-ayat al Qur-an yang dihafalnya…” (HR. Abu Dawud dan Hakim, disahkan oleh Hakim, disetujui oleh Dzahabi).  

Ada beberapa macam doa istiftah yang pernah diamalkan dan diajarkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, disini maaf saya cantumkan satu saja yang lumayan sering saya pakai, salahsatunya adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ باَعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا باَعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

ALLAHUMMA BAA’ID BAINII WA BAINA KHATHAAYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIB. ALLAHUMMA NAQQINII MINAL KHATHAAYAA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLAHUMMAGHSILNI MIN  KHATHAAYAAYA BILMAA’I WATSTSALJI WAL BARAD

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana dibersihkannya kain yang putih dari noda. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, hujan es, dan air dingin.” (HR. Al-Bukhari no. 744 dan Muslim no. 1353, dari Abu Hurairah z)

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat fardhu.
Atau kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membaca dalam sholat fardhu:
MEMBACA TA’AWWUDZ 
“Apabila kamu membaca al Qur-an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (An Nahl : 98).
Nabi biasa membaca ta’awwudz yang berbunyi:
“A’uudzubillahi Minasy Syaithaanir Rajiim Min Hamazihi Wa Nafkhihi Wanaftsihi”
 
artinya: 
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari semburannya (yang menyebabkn gila), dari kesombongannya, dan dari hembusannya (yang menyebabkan kerusakan akhlaq).”
(Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, Daraquthni, Hakim dan dishahkan olehnya serta oleh Ibnu Hibban dan Dzahabi).
Atau mengucapkan:
“A’uuzubillahis Samii’il Aliim Minasy Syaithaanir Rajiim…”

artinya:
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk…”
(Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan sanad hasan).
MEMBACA SURAH AL-FATIHAH
Tidak dianggap sholat (tidak sah sholatnya) bagi yang tidak membaca Al-Fatihah"
(Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Jama’ah: yakni Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu Majah). 
“Tidak (sah) shalat bagi seseorang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah)." (HR.Bukhari, Azan/714) 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al-Qur-an dengan suara yang bagus, maka beliau juga memerintahkan yang demikian itu:
“Perindahlah/hiasilah Al-Qur-an dengan suara kalian [karena suara yang bagus menambah keindahan Al-Qur-an].”  (Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari , Abu Dawud, Ad-Darimi, Al-Hakim dan Tamam Ar-Razi)
“Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur-an.”   (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al-Hakim, dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi)

MEMBACA AAMIIN

“Bila Nabi selesai membaca Al-Fatihah (dalam sholat), beliau mengucapkan amiin dengan suara keras dan panjang.” (Hadits shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Abu Dawud) 
آمين 
artinya : 
 Kabulkanlah Do'a Kami

DISUNNAHKAN MEMBACA SURAH LAIN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Dzuhur dan Ashar bersama kami, maka pada dua raka’at pertama beliau membaca dua surat dan ummul kitab, terkadang beliau juga memperdengarkan kepada kami ayat-ayat Al-Qur’an, dan beliau membaca Al-Fatihah saja pada dua raka’at yang terakhir.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan lain-lain)

“Aku melakukan sholat dan aku ingin memperpanjang bacaannya akan tetapi, tiba-tiba aku mendengar suara tangis bayi sehingga aku memperpendek sholatku karena aku tahu betapa gelisah ibunya karena tangis bayi itu.”  (Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim)

BACAAN RUKU'

Do’a yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada beberapa macam, semuanya pernah dibaca oleh beliau jadi kadang membaca ini kadang yang lain.

 Membaca bacaan Subhaana Robbiyal Adzimi tanpa dibatasi bilangan. Sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim dan Ash-haabus Sunan dalam Fiqhus Sunnah:
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم فَكَانَ يَقُوْلُ فِى رُكُوْعِهِ: سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ .)رواه مسلم فى فقه السنة :137/1(
Dari Hudzaifah berkata:”Aku sholat bersama Rasulullah saw , ketika ruku’ beliau membaca:
سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ
“Maha Suci Allah ,Tuhanku Yang Maha Agung.”(HR Muslim dalam Fiqih Sunnah I:137)
 
Mengenai tambahan (وبحمد ) berkata Imam Asy-Syaukany bahwa sanad- sanad haditsnya dhoif tetapi satu dengan yang lainnya saling menguatkan sehingga menjadi hasan lighoirihii dan bisa dipakai. Sebagaimana keterangan berikut:
وَأَمَّا لَفْظُ سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ فَقَدْ جَاءَ مِنْ عِدَّةِ طُرُقٍ كُلُّهَا ضَعِيْفَةٌ . قَالَ الشَّوْكَانِى وَلَكِنْ هَذِهِ الطُّرُقُ تَتَعَاضَدُ)فى فقه السنة :137/(
Adapun lafadz :
ُسبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Banyak riwayat haditsnya, akan tetapi semua haditsnya dhoif (lemah). Imam Asy-Syaukani berkata bahwa riwayat-riwayat yang banyak itu saling menguatkan.” (Dalam Fiqih Sunnah I:137)

2. Subhana Rabbiyal ‘Adhzimi Wa Bihamdih         -  3 kali (Berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Abu Dawud, Ad-Daroquthni dan Al-Baihaqi).
Yang artinya:
“Maha Suci Rabbku lagi Maha Agung dan segenap pujian bagi-Nya.”

3. Subbuuhun Qudduusun Rabbul Mala-Ikati War Ruuh
(Berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan Abu ‘Awwanah).
Yang artinya:
“Maha Suci, Maha Suci Rabb para malaikat dan ruh.”

4. Subhaanakallahumma Wa Bihamdika Allahummaghfirlii
Yang artinya:
“Maha Suci Engkau ya, Allah, dan dengan memuji-Mu Ya, Allah ampunilah aku.”

Berdasarkan hadits dari ‘A-isyah, bahwasanya dia berkata:
“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak membaca Subhanakallahumma Wa Bihamdika Allahummaghfirlii dalam ruku’nya dan sujudnya, beliau mentakwilkan Al-Qur-an.”(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim).
Do’a ini yang paling sering dibaca. Dikatakan bahwa ada riwayat dari ‘A-isyah yang menunjukkan bahwa Rasulullah sejak turunnya surat An-Nashr -yang artinya: “Hendaklah engkau mengucapkan tasbih dengan memuji Rabbmu dan memohon ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (TQS. An-Nashr 110:3)-, waktu ruku’ dan sujud beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membaca do’a ini hingga wafatnya.

BACAAN I’TIDAL DARI RUKU’  (Bangkit dari Ruku’)

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berdiri dalam sholat mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua pundaknya, hal itu dilakukan ketika bertakbir mau rukuk dan ketika mengangkat kepalanya (bangkit ) dari ruku’ sambil mengucapkan Sami’ Allahu Liman Hamidah   (Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Malik).

Seperti ditunjuk hadits di atas ketika bangkit (mengangkat kepala) dari ruku’ itu membaca:
Sami’ Allahu Liman Hamidah
Kemudian ketika sudah tegak dan selesai bacaan tersebut disahut dengan bacaan:
Rabbana Lakal Hamd
(Rabbku, segala puji kepada-Mu)

atau
Rabbana wa Lakal Hamd
(Rabbku dan segala puji kepada-Mu)
atau
Allaahumma Rabbanaa Lakal Hamd
(Ya, Allah, Rabbku, segala puji kepada-Mu)
atau
Allaahumma Rabbanaa Wa Lakal Hamd
(Ya, Allah, Rabbku dan segala puji kepada-Mu)
Dalilnya adalah hadits dari Abu Hurairah:
“Apabila imam mengucapkan SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, maka ucapkanlah oleh kalian ALLAHUMMA RABBANA WA LAKALHAMD, barangsiapa yang ucapannya tadi bertepatan dengan ucapan para malaikat diampunkan dosa-dosanya yang telah lewat.”  (Hadits dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Ztirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan Malik)
Kadang ditambah dengan bacaan:
Mil-Assamaawaati, Wa Mil-Alardhl, Wa Mil-A Maa Syi-Ta Min Syai-In Ba’d
(Mencakup seluruh langit dan seluruh bumi dan segenap yang Engkau kehendaki selain dari itu)
berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah.

BACAAN SUJUD

Diwajibkan mengucapkan tasbih disaat sujud diantaranya bacaannya ialah : 

Diriwayatkan oleh Muslim dari Hudzaifah,
bahwa ia pernah shalat bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika sujud beliau membaca:
"Subhaana Rabbiyal A’laa. (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi).”

- Subhaana Rabbiyal A’laa Wa Bihamdih     -    3 kali
(berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud dll)

atau
- Subhaanakallaahumma Rabbanaa Wa Bihamdika Allaahummaghfirlii
(berdasar hadits yang dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim)
Bacaan Yang Dilarang Selama Sujud
“Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur-an sewaktu ruku’ dan sujud…”  (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan Abu ‘Awwanah).

BACAAN DUDUK DIANTARA DUA SUJUD 

Rabbighfirlii, Rabbighfirlii
Dari Hudzaifah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan dalam sujudnya (dengan do’a): Rabighfirlii, Rabbighfirlii.  (Hadits dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan lafadhz Ibnu Majah)
Allaahummaghfirlii Warhamnii Wa ‘Aafinii Wahdinii Warzuqnii       (Abu Dawud)
Allaahummaghfirlii Warhamnii Wajburnii Warzuqnii Warfa’nii     (Ibnu Majah)
Allaahummaghfirlii Warhamnii Wajburnii Wahdinii Warzuqnii      (At-Tirmidzi)

BACAAN TASYAHUD AWAL DAN AKHIR

“At-Tahiyyaatu Lillahi Was Sholawatu Wat Thayyibaat,
As-Salamu’alaika Ayyuhan Nabiy Wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu,
As-Salaamu ‘Alaina Wa ‘Alaa ‘Ibaadillahis Shalihin.
Asyhadu Allaa Ilaha Illallah    Wa Asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluhu”

artinya: segala kehormatan, shalawat dann kebaikan kepunyaan Allah, semoga keselamatan terlimpah atasmu wahai Nabi dan juga rahmat Allah dan barakah-Nya. Kiranya keselamatan tetap atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih; karena sesungguhnya apabila kalian mengucapkan sudah mengenai semua hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi- Aku bersaksi bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammmad itu hamba daan utusan-Nya.  (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al Bukhari).

Dari Ka’ab bin Ujrah berkata : “Maukah aku hadiahkan kepadamu sesuatu ? Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami, maka kami berkata : ‘Ya Rasulullah kami sudah tahu bagaimana cara mengucapkan salam kepadamu, lantas bagaimana kami harus bershalawat kepadamu? Beliau berkata : ucapkanlah:

“Allaahumma Shalli ‘Ala Muhammad Wa ‘Alaa Aali Muhammad,
Kamaa Shallaita ‘Alaa Aali Ibrahiim, Innaka Hamiidum Majiid.
Allaahumma Baarik ‘Alaa Muhammad Wa ‘Alaa Aali Muhammad,
Kamaa Barakta ‘Alaa Aali Ibrahiim, Innaka Hamiidum Majiid.”

artinya: “Ya Allah berikanlah Shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada keluarga Ibarahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. 

…..Apabila kamu telah selesai bertasyahhud akhir maka…  (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Ta’awudz (berlindung dari 4 hal) ini dibaca hanya ketika tasyahhud akhir, setelah membaca sholawat secara lengkap.
Dari Abu Hurairah berkata; berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila kamu telah selesai bertasyahhud maka hendaklah berlindung kepada Allah dari empat (4) hal, dia berkata:

“Allaahumma Innii A’uudzubika Min ‘Adzaabi Jahannama Wa Min ‘Adzaabil Qabri Wa Min Fitnatil Mahyaa Wal Mamaat Wa Min Fitnatil Masiihid Dajjaal.”

artinya: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam, siksa kubur, fitnahnya hidup dan mati serta fitnahnya Al-Masiihid Dajjaal.”  (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Bukhari dan Muslim dengan lafadhz Muslim)

BACAAN SALAM 

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari ‘Alqamah bin Wa`il dari ayahnya dia berkata;
"Aku shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau memberi salam ke arah kanan dengan mengucapkan
"ASSLAMU’ALAIKUM WA ROHMATULLAHI WA BARAOKAATUHU", dan kearah kiri dengan mengucapkan "Assalamu ‘alaikum warahmatullah (Semoga keselamatan dan rahmat Allah tetap atas kalian)." 
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ 
Semoga keselamatan, rahmat dan berkah Allah tetap atas kalian


0 komentar:

Poskan Komentar

 
Toggle Footer